Hello!!

| This Random Though was Written By|

Asafin Aulia Putri Bunga Napitupulu

| An Engineer |

| A Writer |

| An Artist |

| A Dreamer |

| The one who Blessed |

A Journal about: Rumble, Hate, Love, Daily Activity , Art, Concept, Plan, Childhood
————————————————–
Maaf jika masih ada typo dan EYD yang berantakan
Sorry for My Broken English
|Please Leave Your Comment |

| Openly Accept the Correction, Critic and Advice |

Online 'Thrift' Shop

Lama ngak bersua di dunia perbloggingan, saya membawa 5 thread sekaligus mengenai cabut gigi saya dan pengalaman pertama saya di rumah sakit. 3 udah direalease sampai hari ini walau masih dalam proses editing kekeke, maklum udah lama grafik pengunjungnya sepi. Lama-lama saya udah kayak vlogger kejar tayang ya kekeke

Ternyata efek ‘liburan’ a.k.a rehat dari rutinitas saya sepertinya berdampak panjang dan positif dalam dunia saya :D. Kayaknya udah perlu saya menjadwalkan ‘liburan’ lagi untuk tahun depan yang banyak merahnya dihari-hari terjepit ^^

Karena saya berencana untuk pindah diakhir november, saya mulai memilah barang-barang yang akan saya buang, saya bawa atau saya tinggalkan (opsi terakhir) dan barang-barang yang akan saya beli menyesuaikan tempat baru saya kelak. Pada akhirnya saya menjajal beberapa aplikasi jual beli barang bekas secara online dan menemukan tempat yang sampai sekarang saya gandrungi, baca malah menambah barang-barang saya kekeke.

Sepertinya saya ketinggalan info, thrifted online shop ini ternyata sudah lama menjamur ^^

Mengenai barang bekas, dulu waktu saya tinggal di medan saya lumayan sering belanja pakaian bekas layak pakai seperti ini. Umumnya pakaian-pakaian impor yang dijajahkan dengan harga yang sangat miring, terakhir kali saya kesana saya masih bisa menemukan pakaian dengan harga limaribu rupiah per pcs, actually waktu saya kecil saya bahkan dapat tuh pakaian bermerek sepuluh ribu tiga, wow, merek dari desaigner terkenal yang sampai saat ini kurang diperhatikan oleh orang-orang yang kurang peduli merek. We are High end anti KW club, from middle-lower class. Yah disinilah surganya…

Untuk dimedan sendiri nama bekennya itu Monza. Sedikit mengenai monza, dahulu Monza itu nama tempat , Jalan Mongonsidi. Dahulu sekali (zaman ompung saya masih muda) Jalan itu pajak (bahasa medan untuk pasar), para penjual rame menjajahkan jualan bekas layak pakainya di distrik ini, seperti baju, jeans, tas impor harga miring tersebut. Karena alokasi (kata ompung saya jalan mongonsidi itu akan dimasukkan ke daerah nomor satu dimedan aka jalan kelas 1, rumah pejabat dan kelas menengah keatas), digusurlah pasar itu. Dengan menggunakan label ‘monza’ pajak melati pun mengambil alih pasar, lokasinya jauh dari lokasi pelopornya, daerah tuntungan sono. Tapi pengunjungnya rame, dari semua kalangan, dari pelajar, bapak-bapak berseragam, sampai wisatawan, kalo ibi-ibu ngak usah ditanya, ngak heran deh liat arisan ibu-ibu encim dengan dandanan selangit hangoutnya dimari juga kekeke.

Dikota medan sendiri sebenarnya sudah di-illegalkan hanya tetap aja ngak ada yang bisa mengalahkan inang-inang sambu (istilah untung wanita yang ngak bisa dilawan) di tanah nya diseluruh wilayah sumatera.

Monza ini udah jadi tujuan akhir pekan untuk menghemat uang, siapaPun itu. Sudah menjamur deh, yang pernah saya datangi selain Pajak Melati, ada di Sambu (Pasar Sentral kota medan), Pajak beruang di Simalingkar (waktu kecil saya liat rumah sewaan kami parkirnya disini), Petisah dijalan S.Parman yang dekat sekolah Menengah saya.

Jadi bukan hal baru lagi deh thrifted shop.

Online ‘Thrift’ Shop ini juga sama kayak e-commerce lainnya. Hanya, yah barangnya pre-loved (istilah bekas di belanja online), barangnya juga banyak yang bermerek. Selama saya bertransaksi barang-barangnya ngak ada yang defact. Seller jug sadar diri (saya juga seller) untuk buat dikolom deskripsi untuk keadaan barang dan harganya juga menyesuaikanlah, ngak separah ‘monza’ miringnya kekeke

Untuk sensasinya antara belanja online dan enggak, Plus Minus ya, namanya juga belanja yang pasti bisa hilangin stress , dibaca belanja sesuai budget ^^
Untuk Monza sendiri plusnya kita bisa nyoba dahulu sebelum melakukan transaksi, minusnya yah pegal lah tuh kaki seharian keliling pajak (waktu belanja rasanya hepi-hepi aja, pas pulang-pulang, wah rasanya pengen langganan wak pijet deh). Minusnya lagi pakaian-pakaiannya biasa ngak dicuci sebelum dijual, debunya nauzubilah, cuci pertama harus rendam air panas.
Untuk Thrifted online Plusnya, instan, tinggal chat transaksi tunggu dikirim. Minusnya (belum pernah sih) sellernya penipu, entah barangnya fiktif, ngak sesuai gambar atau defact parah ternyata, yah tau sendiri lah resiko belanja online.

Sebenarnya saya menemukan anomali untuk sih karena namanya juga cewe ya liat barang bagus murah rasanya pengen beli aja gitu. Padahal niatnya mau ngurangi barang kekeke. Aplikasi-aplikasi belanja memang selalu bikin addicted, saya juga banyak nahan diri biar ngak boros.

Untuk aplikasi Thrifted online, saya sendiri seller dan buyer Courosell, yang lainnya saya belum coba. Belum siap nahan nafsu, apalagi kemaren sempat terbuka artikel yang cantumin alamat online ‘vintage-thrift’ shop, aw aw aw..

KESIMPULAN

Doakan semoga barang-barang pre-love saya laku ya, nambah banyak soalnya kekeke, saya udah berkecimpung dua minggu sudah kuat kok untuk membeli mana yang berguna atau sekedar hilangin stress (budget shout it loud). Mau online mau Monza pokoknya stress hilang..

Tipsnya, walau barang cantik dan murah, ingat sebelum belanja tanya kediri kita dulu kenapa barang ini harus jadi punya kita..

kita beli emang karena butuh atau bakal nyemak-nyemaki lemari?(kalau soal berguna pasti berguna ya),

Ukurannya pas kah? (Syukur kalau di jual lagi ada yang beli),

Membantu kita untuk berkembang? (khusus untuk beli sesuai hobi)

Jangan terburu-buru, ingat budget belanja tiap bulannya, sayang loh gajinya. Lebih sayang management keuangan kita yang kacau perkara lapar mata..

Kebiasaan baik itu kalau dilanggar bakalan susah kembali loh..

#berdasarkanpengalaman

Karena ‘thrifted’, sekali seumur hidup ada gitu ya yang sangat sangatttt murah , ambil waktu semalam untuk memkirkannya (ngak lucu eeuuyy menyesal seumur hidup kedahuluan direserve sama orang lain).

OPERASI CABUT GIGI (DICOVER BPJS)

Operasi Cabut Gigi di Cover BPJS (Rawat Inap)

Sincerely it was my first draft of this triller thread, seemingly not right to write my rumble for this entire story that is event not suit to the title and would make any misconception due to BPJS problematica.

Tahap 1: Faskes tingkat 1- Klinik, puskesmas atau dokter keluarga (Untuk yang sakit parah langsung ke UGD Rumah Sakit)

Untuk pengecekan ke Fasilitas Kesehatan (faskes) tingkat 1. Sama sekali tidak dikenakan biaya apapun. Sayangnya diklinik saya terdaftar ngak dikasih obat penghilang rasa sakit, padahal saya ngeluh seluruh isi kepala saya serasa ditelan monster saat itu. Setelah gigi saya disenter, langsung dibuatkan surat rujukan.

Yang perlu dibawa untuk administrasi:

  • Kartu BPJS dan fotocopynya

Tahap 2: Rumah Sakit Rujukan

Dirumah sakit Rujukan yang saya pilih ( bekerjasama dengan BPJS) saya dikasih resep, yang bisa saya tukarkan di Farmasi rumah sakit. Di RSUD tinggal scan barcode ticket yang dikasih di poli, lalu selojoran nunggu nama dipanggil. Obat-obatan ini Gratis.
Untuk resep yang tidak ada di Farmasi RS harus cari sendiri di apotek dan tentunya ngak ditanggung BPJS.
Untuk yang non-BPJS resep akan diproses difarmasi setelah karcis/resep dari poli terkait di bayar di kasir. Ruang tunggu farmasi juga ramenya ampun-ampun dah..

Untung ada helodoc, kayak delivery via sms atau aplikasi online gitu, eh jadi promo kekeke. Menurut saya ini terobosan sih didunia farmasi, banyak banget orang tua yang benar-benar tua atau ibu bawa anak yang kewalahan ngantri begituan..

Walau kita memilih jadwal kunjungan sebelumnya di Faskes 1, di Rumah sakit rujukan kita juga harus medafar. Daftar menjadi ‘anggota RS’, bagian ini sudah saya jelaskan di thread sebelumnya dan daftar menjadi pasien (peserta BPJS). Setiap Rumah sakit punya kebijakannya sendiri, jadi sebaiknya jadwal yang diberikan diikuti dan banyak tanya di front desk, daripada ngantri yang ngak perlu, karena pengunjung aka pasien RS itu setiap hari banyak. Semua administrasi, Gratis.

Yang perlu dibawa untuk administrasi:

  • Kartu BPJS dan fotocopynya
  • Fotocopy KK (kalau perlu)
  • Fotocopy KTP
  • Surat Rujukan dari Faskes 1 dan Fotocopnya
  • Untuk yang udah terdaftar jadi ‘anggota RS’ , jangan lupa kartu RS nya dibawa setiap kunjungan

Langsung aja untuk semua biaya operasi dan rawat inap:

  • Bedah Gigi dan Mulut : Rp. 6.5juta-an ( 2 Gigi) Mungkin kalau bius lokal ngak akan semahal ini kali ya..
  • Sekali Kunjungan poli gigi : Rp. 40Ribu-an
  • Obat-obatan : Rp.50Ribu-an
  • Rawat Inap (Ruang Rawat Tulip-kelas 1) 3 hari 3 malam : Rp.900Ribu-an

Untuk obat-obatan:

Untuk meredakan rasa sakit karena ngilu, pertama kali saya dikasih resep saya dikasih asam mefanamat, untuk ukuran obat tablet, ini termasuk besar ya, saya sempat kebingungan ini gimana ya obatnya bakal masuk, untuk ngak berasa jadi dengan air dan usaha telan menelan yang cukup alot, obatnya ketelan juga..

Actually karena durasi antara obat yang diresep dokternya dengan jadwal operasi cukup panjang, 2 bulan, obat yang habis saya beli diapotek terdekat, konsumsi kalau sakit aja. Alhasil saya nyoba bermacam-macam obat, asam mefamanat nya udah kebal cuy, saya coba saran adik saya (mahasiswa koas) untuk konsumsi diclonefac sodium. Beberapa hari kemudian konsultasi via sms saya dibalas sama perawat khusus dokter saya untuk konsumsi cataflam.

Selama konsumsi obat-obatan ini, perut saya mules dan sering mengalami gangguan pencernaan. Saya memang ngak cocok makan obat ^^
Tapi apa daya sakit gigi saya jauh lebih menyiksa, benar kata-kata orang bijak.

Lebih sakit, sakit gigi daripada sakit hati kekeke

Finally, obat pasca operasi yang diresep ngak jauh-jauh dari asam mefamanat dan tambahan capsul yang ngak kalah besar, cefadroxil.

Saat jadwal kontrol, saya juga diresep diclonefac sodium, kata perawat dikonsumsi hanya kalau ada nyeri atau sakit dikemudian hari.

Semua konsultasi gigi dan perawatan diatas full dicover BPJS, untuk kelas BPJS pengaruhnya hanya di ruang rawat inap saja sih menurut saya, fasilitas saja. Selebihnya untuk perawatan kelas tidak berpengaruh apa-apa, terimakasih BPJS, terimakasih perusahaan tempat bekerja saya sudah menijinkan saya cuti dan membayar BPJS saya ^^

OPERASI CABUT GIGI (RAWAT INAP)

Setelah penantian panhjang akhirnya Gigi Bungsu saya yang kian hari kian mengganggu nyilu nya pun akhirnya dicabut.

Tanggal 27 November sebelum saya ke rumah sakit saya konfirmasi dulu bisa atau tidaknya untuk ngikuti prosedur operasi dari H-2, ke perawat yang di tugaskan untuk mengatur Jadwal Operasi dokter saya.

H-2
Sabtu, 30 November

Saya diwajibkan untuk datang pukul 7.30 pagi ke rumah sakit.
Lucunya saya datang-datang malah langsung ke administrasi gedung rawat inap karena misscomunication. Saya dengan entengnya serasa hotel sendiri, check-in, terus santai-santai dikamar ^^ perawatnya juga setelah saya kasih kartu rujukan rawat inap dari dokter, langsung aja ngarahin saya ke kamar. ngak nanya-nanya berkas lagi, malah saya yang nanya saya lapor kepoli dulu atau gimana. Sebelumnya saya memang sudah daftar pas dokter kasih saya rujukan terus bagian administasinya saya tanya nanti proses pas saya datang taggal 30, mereka bilang langsung ke ruangan nanti diarahkan, ya saya kan ikut aja kekeke. Untung kakak saya cari tahu, ternyata disuruh lapor dulu ke poli. Maklum ya baru pertama kali..

Saya pun tinggalin barang saya dikamar, terus menuju poli.

Dipoli saya ngak ngambil antrian, saya langsung lapor ke admin poli, tunjukkan kartu rujukan rawat inap saya. Terus dikasih nomor antrian dokter gigi saya.

Beberapa saat kemudian, saya dipanggil, dan dijelasin sama perawat yang mengurus jadwal operasi pasien-nya dokter saya. Ada sekitaran 5 pasien waktu itu yang dapat jadwal operasi untuk tanggal 2 desember. Sama siperawat di kasih form persetujuan untuk melakukan operasi. Lalu disuruh nunggu lagi diluar untuk sama-sama diarahkan ke ruang inap.

Setelah beberapa nama pasien dokter saya dipanggil selesai tandatangan form operasi, seorang staff rumah sakit datang mandu kami, pasien dokter saya ke tempat berikutnya. Kami dibawa ke Lobi poli, keloket untuk menandatangai surat-surat administrasi untuk rawat inap dan operasi, disini kita juga diminta informasi keluarga yang bisa dihubungi. Dijelaskan fasilitas yang akan kita dapat. Karena saya peserta BPJS kelas 1, saya juga dapat ruangan kelas 1, di Ruang Tulip Lt.3. Nah berkas yang ditandatangani di Loket tadi, ini jadi pegangan kita selanjutnya selama di rawat inap. Saya dapat tiket gelang berwarna pink (gelang kertas anti air yang kayak dikonser”), kemunginan warna pink dikhususkan untuk pasien operasi, soalnya saya hilir mudik keluar gedung rawat inap rumah sakit sempat dihadang satpam, pas liat gelang saya, “pasien operasi toh mbaknya”, langsung dikasih ijin kekeke

Sedikit review tentang RSUD Sidoarjo. Jujur aja, Rumah sakit ini menang jauh banget dibanding rumah sakit umum di Medan, mulai dari pelayanan, kebersihan, fasilitas sampai hal remeh temeh kayak antrian. Saya ngak tahu ya apa emang di Jawa rumah sakit-nya sekelas Rumah sakit swasta semua, tapi saya aku manajemen Rumah bagus ini bagus banget.

Saya kembali ke Frontdesk / Administrasi ruang tulip(pokoknya tempat dimana perawat ngumpul) , tandatangan aturan-aturan diruang rawat, dijelaskan segala yang berhubungan dengan perawatan dan lainnya yang berhubungan sama operasi. Jadi selama di Rawat inap saya bakal dimonitor terus tensi dan kesiapan untuk operasi, saya juga bakal di Infus antibiotik (kalau ngak salah) di Hari-H dan dapat suntikan anti nyeri. Intinya sebelum hari H saya benar-benar hanya istirahat dirumah sakit, dengan kata lain enggak ngapa-ngapain!

13.30

Semua pasien Kelas 1yang dapat jadwal operasi hari senin, dipangil ke front desk tadi untuk operasi hari senin dipanggil untuk Konsultasi Bius. Disini diwajibkan buat didampingi, berhubung operasi saya ngak yang parah-parah amat kakak saya udah pulang setelah ngecheck jadwal dan saya dikasih makan apa enggak siang itu kekekeke

Perawat dan ibu-ibu yang tadi ngajakin saya ngobrol pada sibuk nanyain kalau saya sendiri ^^ iya dong, lahir aja saya sendiri kok..

Kami diarahin ke Ruang IGD lantai 4, nunggu hampir satu dua jam-an untuk tandatangan persetujuan bius total yang hanya 5 menit -____-
Disini diterangin prosedur biusnya , siapa dokter yang bertanggung jawab, edukasi tentang operasi, efek jangka panjang jangka pendek serta pantangan-pantangannya seperti puasa 12 jam sebelum operasi.

Setelah itu saya asyik menikmati malam minggu saya sendirian dirumah sakit dengan novel, oil pastel baru saya dan seringkali keluar untuk jemput pesanan makanan online saya ^^ ini efek bosan dan menyadari seminggu kedepan ngak bisa makan normal.

H-1
Minggu, 1 Desember

Pemeriksaan Rutin, cek tensi dan temperatur tubuh.
Sekitar pukul 10 malam selesai makan martabak kekeke , saya diingatin untuk puasa dari jam 12 malam sampai operasi berlangsung.

Bagian lainnya diskip karena saya bikin postingan hari itu

H-0
Senin, 2 Desember

06.00

Setelah pemeriksaan rutin saya di kasih cairan khusus antiseptik, Sabun khusus Rumah Sakit. Anyway, selama saya di rumah sakit saya rajin banget loh mandi, teratur amat hidup saya kayak lagi retret kekeke, yaiyalah orang ndak ngapa-ngapain juga..

Saya siap-siap dipanggil menuju ruang operasi.

07.30

Rombongan Operasi saya kumpul lagi di Front office ruang tulip. Jumlahnya udah sedikit dan banyak reshuffle, saya dapat jadwal jam 08.00 dan rombongan saya yang kemarin kayaknya dapat jadwal jam berikutnya.
Semuanya berangkat menuju ruang operasi dengan pendamping mereka, perawat yang mandu saya, dengan tulus ngingatin dia yang dampingi saya, yaampun bu saya ngak apa loh kekekeke. Rombongan saya kasusnya unik-unik, ada yang kehilangan gigi depan karena kecelakaan kerja, ada patah tulang kaki karena kecelakaan, ada nenek yang mau lepas pen (besi penyangga tulang) lengannya, sakit saraf dan lainnya. Benaran saya ngak kuat sakit-sakit begini.

08.00
Sebelum masuk ruangan operasi kita dikasih pakaian operasi rumah sakit. Diruang operasi hanya diperkenankan pakai pakaian yang disediakan rumah sakit, kita ngak diijinkan pakai pakaian pribadi kita (termasuk pakaian dalam loh). Pakaian operasi di RSUD ini warnanya cream ke pink gitu bahannya juga lembut kayak selimut, setelan kimono baju, rok panjang dan penutup kepala.
Setelah selesai berpakaian kita pilih tempat tidur pasien, naik lift ke lobi operasi. Dilobi operasi ini saya ketemu rombongan yang lebih besar ^^ (orang-orang yang akan segera dioperasi). Disini semua pasien diwawancarai, kesiapannya, puasanya terus diinfus, suntikan terlama saya ! itu yang nancapin jarum infus sempat ngobrol dulu lagi sama pasien disebelah saya, saya sampai malingkan muka karena takut tapi ternyata setelah nancap udah ngak sakit lagi. Beberapa menit kemudian saya dibawa keruang yang Operasi.

Actually ruangannya ngak segelap yang di film-film. Ruangannya berwarna putih dan lumayan rame sama mahasiswa-mahasiwa koas.

Alat pengukur detak jantung dipasangkan di dada, tensimeter dan peralatan gigi lainnya. Waktu itu saya ngak konsen lagi karena lihat jarum panjang yang bakal ditancap di nadi saya, dokter anastesinya ngajak saya ngobrol sesekali bikin joke sambil ngajarin mahasiswa koas, anyway saya agak kecewa sama mahasiswa koasnya, si dokter sampai nyuruh mereka simpan note mereka karena mereka sibuk baca note dan nyari2 pena karena ‘istilah’ dan ketrampilan lapangan yang diarahkan si dokter. Dear adek saya, kamu koas jangan gitu ya, seengaknya tanya dulu sama senior kebiasaan dokter-dokternya biar ngak gugup di meja operasi….
Berlahan saya pun hilang kesadaran.

Saya pun terbangun di ruang rawat sadar (mungkin ada ruang rawat tidak sadar disebelah., kidding kekeke..) . Pengaruh obat bius saya masih sering bangun terus ketiduran lagi gitu terus sampai saya dikembalikan kekamar tulip saya sekitar pukul setengah lima. Actually berdasarkan berkas operasi yang saya baca, cabut gigi saya berlangsung selama 60 menit (ngapain aja itu coba, lama amat^^)

16.30

Pertama lihat cermin saya kaget lihat pipi saya yang sekarang seperti bakpao. walau tidak ada rasa sakit lagi, tapi melihat penempilan saya sore itu, agak shock. Bisa ditebak gigi belakang saya sudah hilang menyisakan benang-benang dan darah yang hampir belum mau hilang. Mulut saya juga masih kaku sulit dibuka. Kalau dibuka rasanya benang-benang yang dihubungkan dari gusi ke pipi saya akan membuat luka baru (?), untuk pernyataan ini saya kurang yakin, karena sulit sekali melihat bekas operasi waktu itu. Mulut dan Kerongkongan saya kering , dasar perut singa, saya juga kelaparan kekeke.

Saya diijinkan untuk minum setelah kentut jadi saya tahan-tahan sampai hampir jam 7-an ngak minum. Kata perawat ini karena pencernaan, usus-usus saya tadi saat dibius aktifitas nya juga berhenti, kalau kentut artinya sudah mulai berkontraksi jadi boleh dimasukkan minuman dan kalau sudah ngak mual baru boleh dimasukkan makanan. Walau mulut cuma bisa dibuka sedikit tapi ngak boloh minum pakai sedotan, kumur-kumur dan minum yang terlalu panas atau dingin kata perawatnya, saya belum menemukan apa alasan logis dibaliknya.

Padahal tadi saya sadar-sadar langsung sesak pipis, dengan kata lain udah bisa makan dan minum dari awal ;( .Sesekali bangga dong sama pencernaan saya, walau seringkali mau pup ngak kenal waktu dan tempat, kekeke. Perut saya kuat banget sampai ngak ada mual. Sanking laparnya dan ngak kepikiran mesan makanan lembek online dilarut malam, saya buka semua rantangan rumah sakit saya yang dari pagi ngak ada saya sentuh, saya pilih-pilih mana yang bisa saya mamah dengan gigi seri saya lalu kenyanglah perut saya. Anyway rantangan pagi saya hari itu ayam saudara ( Setelah dua hari penantian ayamku), sayang sekali kamu tidak bisa saya makan TT.TT

Sampai dini hari saya ngak bisa tidur hari itu karena masih beradaptasi dengan bekas-bekas cabut gigi, walau ngak sakit tapi benaran ngak nyaman.

H+1
Selasa, 3 Desember

Saya masih diinfus saat itu, perawat datang untuk kasih suntikan anti nyeri, yang buset daaah itu pas jarum ditusuk ke jarum infus saya malah nyeri. Ini suntikan ketiga dan yang menjadi suntikan terakhir, karena saya akan pulang.

BTW sabtu saya masihhitungan kerja loh, by phone kekeke. Saya berharap bisa pulang pagi biar langsung berangkat kekantor. Tapi kata perawat nunggu dokter dulu .

10.30
Dokternya datang, ngecheck, lalu saya diperbolehkan pulang sampai infusnya habis. Saya juga dikasih jadwal kunjungan untuk kontrol ditanggal 5 Desember, tiga hari pasca operasi.

Sedikit tips bertahan di RSUD sebagai lone Ranger:

  • Selama ada aplikasi pesan makanan online, mau jajan ngak usah pusing deh,tinggal pesan. RS memperbolehkan mengantar makanan sampai lobby lantai 1 gedung rawat inap. Letak RSUD juga masih di kota sidoarjo, jadi ongkosnya ngak mahal.
  • Karena rumah sakit ngak menyediakan minuman (baik air mineral maupun air panas), bahkan untuk makan, RS hanya memfasilitasi rantangan+ 1 air mineral gelas. Bisa disiasati dengan air siap minum yang ada di taman depan pintu gedung rawat inap, untuk minuman hangat dengan modal 5 ribu kita bisa beli di vending-machine yang tersebar diseluruh penjuru RS. Kalau mau hemat, bawa termos air panas serta air panasnya dari rumah masing-masing.

    Fyi, rantangan yang disediakan RSUD termasuk menu yang enak loh, bagian gizi juga sering mengecheck makanan untuk pasiennya. Ada ada 2 jenis makanan yang disiapin: Makanan keras kayak nasi dan Makanan Lembek kayak bubur dan nasi tim
  • Untuk mandi, yah pasti dong bawa perlengkapan sendiri. Jadi kayak saya mandi kayak biasa dengan sticker gelang operasi saya, untuk yang ngak bisa mandi, tiap pagi dan sore disediakan Sika, handuk panas untuk lap tubuh pasien.
  • Untuk kebutuhan lainnya bisa dicari ke kantin Rumah sakit atau warung-warung disekitar Rumah sakit. Saya beli snack dan Mie dikantin itu pertama kali makan-makanan rumah sakit. Biasa makan satu bakul, jadi bawaannya lapar mulu.
  • Perawatnya juga baik-baik dan sedikit banyak perhatian, karena bawa oil pastel saya, mereka penasaran lihat gambar-gambar saya ^^ keknya seumuran deh sama keponya.. Ngak sungkan deh minta tolong

H+3
kamis, 5 Desember

08.00

Seperti biasa saya ngambil nomor antrian lewat aplikasi Santri sehari sebelum, antrian nomor 4. Actually saya udah was-was karena nomor antrian 1 udah dipangil diaplikasi waktu saya sampai RS, dafter diloket pakai surat kontro dari dokter. Syukurlah, saya sampai dipintu poli nomor antrian 3 masih berurusan dengan administrasi poli, yeahh on time arrival.

Kontrol gigi pasca operasi pertama dan terakhir saya. Dokter bilang tidak perlu kontrol lagi karena sudah hampir pulih walau pipi saya masih bengkak dan mulut masih tidak bisa dibuka lebar. Kalau ada keluhan saya disarankan untuk ke Faskes 1 (finally, ngak ada antri-antri lagi ^^)

H+7
Senin, 9 Desember

Hari ini saya udah bisa makan nasi, benang di gusi saya juga lepas dan ketelan sendiri, kata dokter ngak apa, sekarang emang benangnya ngak perlu dilepas dokter udah mandiri kek saya kekeke. Untuk gigi yang udah bolong dan masih berbenang-benang kadang masih risih, kayak ada makanan nyangkut gitu, yang pasti ngak sakit aja udah bersyukur banget

Pipi saya juga udah kembali normal, ngak perlu pakai masker lagi, biar ngak cape jelasin kenapa saya kek habis operasi plasik begitu.

Wah treadnya udah panjang amat ya, saya bakal bahas soal obat-obatan dan biaya di thread sebelah. Actually semuanya Gratis ya, biaya disini adalah bon yang saya bawa ke kasir untuk verifikasi doang karena full di cover BPJS. Mungkin berguna untuk yang mau operasi tapi ngak pakai BPJS.

OPERASI CABUT GIGI (IMPAKSI GIGI)

Baiklah setelah Berjanji. Kali ini saya bakalan menulis tentang proses penanganan Impaksi gigi saya yang semuanya dicover BPJS, eng-i-eng, finally i have a time to write it down..

Sedikit kilas balik, actually saya ngak akan pernah dan mau ke RS kalau sakit benar-benar masih bisa ditanggulangi sama perawatan lokal a.k.a tidur-tidur bae, bangun-bangun lupa ingatan. Saya juga agak pelit untuk hal-hal yang masih bisa dikerjakan sendiri, yah kalau ada yang lebih murah dengan kualitas sama kenapa ngak sabar-sabar aja walau sedikit lebih ribet.

Dan pada akhirnya saya sadari, semua administrasi dengan budget tertentu, mau pemerintahan, mau swasta, mau gratisan, mau berbayar, emang ngak ada yang instan, semua ribet pokoknya!. Pengecualian untuk fasilitas tertentu yang disyaratkan mengeluarkan duit berlebih, fasilitas excecutive, vip atau apalah namanya (baca: legal facility).

Pertama-tama saya berterimakasih banget dengan perawatan BPJS yang menurut saya udah setara bahkan lebih dari fasilitas asurasi. Full Covered. Dulu gigi saya bermasalah, sekarang gigi saya hilang kekeke (ini makna sebenarnya loh kekeke)

Nyilu gigi geraham bungsu yang kita panggil si bungsu mulai dari sekarang, sakit di gusi saya itu udah sampai kepala sebenarnya, jadi udah sangat mengganggu. Yang paling nyelekit rasanya muncul diakhir bulan Agustus. Disitu saya cek ke faskes 1 di klinik Citra Husada Sidoarjo. Sekali liat dokter gigi saya langsung rujuk ke Rumah sakit yang ada dokter spesialis Bedah mulut, karena gigi saya tumbuhnya tuh tidur, miring, nanggung deh masih ketahan dalam gusi. Dokternya bilang ini bahaya, udah harus dicabut. Waktu itu karena sakitnya masih timbul tenggelam jadi saya masih milih-milih jadwal dokter yang ngak ganggu jam masuk kantor, dapatlah jadwal hari sabtu, RSUI Siti Hajar. Sayangnya di hari-H pas daftar via telepon ke rumah sakit, anyway saya telat daftar, dokternya ada operasi jadi pasien hari itu dibatasi dan saya ngak dapat antrian, so i never visit the doctor after it.

Selama masa setelahnya, saya sharing gimana mengatasi ngilunya ke adik perempuan saya yang koas dokter gigi, tinggalnya jauh di medan sana, jadi kita berbagi lewat WA, minum air hangat, kumur-kumur air garam, perawatan rumahan begitu. Actually kurang lebih saya sudah paham resiko si gigi bungsu ini kalo ngak dicabut, hanya saya menunggu waktu yang tepat. Si gigi bungsu bukan hanya karena posisnya yang ngak wajar, si gigi ini juga bikin ‘gab’ tempat sisa makanan pada nyangkut, yang kita tahu bisa bikin gigi busuk dan bau mulut. Terus sigigi tuh kan terus tumbuh kepermukaan di rahang saya yang udah tidak punya ruang untuk tempat tumbuhnya, umur saya 24 tahun mana mungkin rahang saya berkembang lagi, jadi si gigi ini mencari tempatnya yang berpotensi mendorong geraham yang disebelahnya dan bisa merusak gigi lainnya, begitulah kenapa dia sakit.

September saya ke Faskes 1 lagi, untuk minta rujukan lagi ke Rumah sakit RSUI Siti hajar Sidoarjo, tapi beberapa hari sebelum hari-H berbenturan dengan jadwal saya, saya pun harus nunda lagi.

Di Oktober gigi saya yang paling parah sakitnya terasa sampai ubun-ubun dan ganggu aktifitas saya setiap detiknya. Malam itu saya ke Faskes 1, minta rujukan untuk cabut ini gigi ke dokter spesialis Rumah Sakit mana aja yang besok ada jadwalnya ^^ udah ngak kuat cukk..

Kamis, 3 Oktober

RSUD Sidoarjo,
Ternyata ngak bisa langsung cabut TT.TT

Pertama, saya langsung ke Gedung Poli Spesialis oleh petugas di Lobby RS (ini pertama kali-nya saya ke RSUD), diarahkan ke ke Front Office untuk daftar jadi anggota Rumah sakit, dapat kartu anggota ^^. Fungsinya kartu ini untuk tracking history kita di data basenya mereka, mempermudah kita untuk daftar check-up dengan fasilitas online RS. Di Rumah sakit sekarang pakai sistem online gitu, jadi kita tinggal tempel kartu kita dan milih poli atau dokter mana yang mau kita datangi. Untuk RSUD sendiri, mereka ngembangin aplikasi pendaftaran online, namanya SANTRI, bisa di cek di apps store. Untuk pemeriksaan lanjutan atau farmasi juga udah pakai sistem karcis.

FYI, pastikan kita sign up aplikasinya pas lagi di Rumah Sakit (dekat meja helpdesknya), soalnya aplikasinya masih dalam tahap pengembangan jadi sign-up masih sering error.

Syarat jadi anggota rumah sakit: FC Kartu BPJS, FC KK, FC KTP

Lanjut ya,
Untuk verifikasi pendaftaran anggota dan pendaftaran BPJS, saya ke Loket 1. Loket-loket ini punya spesialisasinya sendiri, kayak saya yang mau ke poli gigi ngantrinya selalu di Loket 8.

Untuk yang pertama kali daftar, di loket 1. Kartu Anggota RSUD langsung jadi dalam beberapa menit. terus saya balik legi ke front office untuk ngantri di mesin yang ngatur nomor antrian RS.

Kita tinggal scan Kartu Anggota RSUD dan Kartu BPJS, pilih ke poli mana, keluarlah tiket nomor antrian kita.

FYI, untuk kunjungan berikutnya alurnya kita ke mesin ini dulu untuk dapat nomor antrian. Lalu ke loket khusus poli sesuai yang dituju untuk verifikasi BPJS atau rujukan kita. Ini hanya pendaftaran administrasi setiap kunjungannya saja, selanjutnya untuk non subsidi akan diarahkan ke Kasir.

Karena saya Subsidi a.k.a BPJS saya langsung ke Poli Gigi dan Mulut yang ada dilantai dua, nunggu nomor antrian saya dipanggil. Ini antrian ke-4 saya hari ini.

BTW nomor antrian saya masih angka kecil karena saat itu masih setengah delapan, anyway jam kerja Poli Gigi RSUD 08.00-12.00, Jam 8 teng nomor antrian 1 mulai dipanggil. Sampai beberapa menit kemudian nama saya dipanggil diperiksa berkasnya, ditanya keluhannya lalu dipilihkan dokter spesialis yang sesuai untuk keluhan saya. Saya pun keluar dari pintu poli dengan nomor antrian lainnya, okeh kepala saya mulai berdenyut..

Proses di poli ini ini juga tetap ngak jauh-jauh dari yang namanya ngantri, Nomor antrian dari mesin itu adalah antrian untuk pendaftaran di poli saja. Jadi ruang tunggu itu adalah tempat yang memang dimanfaatkan di rumah sakit. Actually saya baru tahu ‘spesialisasi’ untuk dokter gigi itu banyak macamnya^^

Udah mulai merasa malas ke dokter?

Perlu diingatkan ya,walau saya banyak ngeluh, antri-antri ini untuk tujuannya bagus kok untuk menertibkan kita. Ruang tunggu poli dirancang dengan tempat duduk yang memadai (dengan majalah entah tahun berapa di meja ruang tunggu). Dan yang datang kerumah sakit itu buannyaaaak dengan penyakit bermacam-macam, dengan sedikit dokter yang menangani lebih dari satu pasien setiap harinya dengan keluhan macam-macam. Jadi bukan salah sistemnya sih menurut saya. Tetap heran setiap kali datang kesini ramenya kayak pasar pagi..
Kalau ngak sakit-sakit amat ya mana ada sih yang mau ke RS, jadi jagalah kesehatan sebaik-baiknya.

Lanjut, ini masih kunjungan pertama saya loh kekeke

Akhirnya antrian saya yang panjang, dibalaskan dengan ketemu dokter spesialis bedah mulut yang hanya beberapa menit. Dokter dengan gelar spesialis bedah mulut saya, langsung menyarankan untuk cabut gigi. Saya pun di berikan karcis, untuk pemeriksaan lanjutan, Rontgen gigi panaroma (semua gigi terfoto x-ray dalam satu film).

Loh..loh..loh ini ngak langsung dicabut gitu? saya masih harus nahan sakit ..

Mungkin karena kepala saya puyeng, perawat hanya membalas: harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, Selasa bisa datang lagi kan, nanti foto Rontgennya dibawa. saya pun menarik nafas panjang, ngak protes banyak-banyak.

Saya ke Departemen Rontgen, daftar administrasi di front offficenya, diarahkan ke Ruang 1 dan nunggu lagi sampai nama saya dipanggil.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 baru saya masuk ruang rontgen untuk foto x-ray Mulut. Ngak boleh bergerak, jam tangan dan logam (perhiasan) apapun di lepas.Mesin X-ray nya seperti kapsul, saya menghadap lempengan yang tampaknya seperti cutting board dengan Tissue yang disumpal diantara gigi atas dan gigi bawah saya, katanya biar foto gigi-nya kelihatan. Beberapa menit si lempengan didepan muka saya mutar, petugas mengintruksikan foto selesai, besok baru bisa diambil.

Selasa, 8 Oktober

Saya kembali lagi ke RSUD, mendambakan si gigi Bungsu ini dicabut. kedua kalinya saya datang ke RS, jadi Foto X-ray kemarin baru saya ambil hari ini.

Saya ngantri di mesin antrian, and what the!!, saya dapat nomor antrian 20-an. Woho woho ini ngak salah kan ini belum jam 7.30 loh.., alhasil saya belum keluar masuk pintu klinik aja kepala saya udah puyeng setengah hidup.

Yah mari kita telusuri lagi, masih ingat aplikasi antrian RSUD, SANTRI, yang saya ceritakan diawal, ternyata antrian saya dipotong oleh antrian online saudara-saudara..

Bagian curcol emosi marah-marah saya skip sampai sini,

Langsung ke inti, saya dikasih pilihan untuk cabut gigi Bius Lokal atau Bius Total. Bagian ini, konsekusensi dan konsultasi dengan dokter bersangkutan sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Sayapun memilih bius Total, dengan jadwal kira-kira diatas tanggal 22 Desember!!.

Okeh kali ini kepala saya pun udah ngak kuat menahan puyeng, Dokternya kayaknya paham betul saya pengen banget gigi saya cepat-cepat dicabut, jadi kunjungan saya dikasih waktu dua hari kemudian . Saya pun dapat karcis pemeriksaan lanjutan untuk persiapan bius total, Rontgen Thorax (Tenggorokan Paru-paru) dan Lab Patologi (cek darah). Actually, hari itu saya cuma Rontgen Thorax karena jam sudah menunjukann setengah dua belas lebih, saya buru-buru kembali ke Kantor dungss , sakit kepala membuat saya lupa cek darah ^^.

Kamis, 10 Oktober

Nomor antrian SANTRI, nomor kecil check

Tapi, kali ini saya telat datang. Saya ngantri panjang di loket khusus poli, intinya antrian saya udah dipanggil jadi saya dapat nomor antrian baru yang ngak kalah bontot dari kemarin, nomor 39!!!

Apalah yang paling menyebalkan kalau engak, saya dikasih karcis lagi ke lab patalogi, karena kemarin saya lupa. I blame my time management. Sayang sekali waktu dan ongkos ojek saya, bolak-balik karena kebodohan saya sendiri.

Sabtu, 12 Oktober

Nomor antrian SANTRI, nomor kecil. Check.
Antrian Poli Khusus Gigi ( Verifikasi Rujukan dan BPJS) sebelum nomor antrian saya dipanggil. Check.
Antrian administrasi di Poli Gigi. Check.

Hari Sabtu dokternya datang jam 10 saudara!
Mulai dari saat itu saya bertekad untuk hidup sehat, dan ngak pernah sakit apapun dihidup saya. Emosi saya itu cuyyy..

Finally, karena beberapa pasien batal operasi dan lainnya. Saya dapat jadwal opersi yang lebih cepat dari perkiraan, 2 Desember. Saya diminta untuk daftar ruangan rawat Inap untuk tanggal 30 November dan ambil obat untuk mengurangi nyeri karena gigi tumbuh saya, Asam Mefanemanat.

Jadi dari hari itu sampai ketemu di tanggal 30 November di Rumah sakit.

IMPACTED TEETH CARE

Hai!

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman yang baru-baru saya rasakan..

Setelah telponan sama Mamak beberapa menit yang lalu, akhirnya saya memutuskan mendorong rasa malas saya untuk menulis seefektif dan seefisien mungkin pengalaman saya dengan sakit gigi actually sakit termenyengsara di hidup saya (semoga ini yang terakhir).

Fyi, dari kecil saya rajin banget loh sikat gigi ‘hampir setiap malam (dibanding sama anggota keluarga saya lainnya) diluar waktu mandi. Terus kenapa saya sakit gigi?
Saya juga bukannya suka makan yang keras-kera atau narik-narik gigi, kenapa gigi saya tonggos?
Oke mungkin dulu karena saya nyabut gigi sendiri makanya gigi saya jarang-jarang, tapi kan giginya copot sendiri seelum kedokter, teman-teman saya toh giginya rapi-rapi aja..

Oke keabsurdan saya ternyata ngak luntur walau saya malas nulis ^^

Katanya sih struktur gigi kita berantakan karena pengaruh perpaduan gen ayah dan ibu yang enggak matching, entahlah kalo ini. Terus karena kebiasaan makan kayak minum pakai dot, sedotan, nghisap jempol, makan permen karet —-> contek dari stand banner-nya poli spesialis Gigi dan mulut yang saya datangi. Disana juga ada poster edukasi tentang karies dan plak gigi, cara merawat gigi yang benar dan baik.

Thanks to the long line i had while waiting mine. Seengaknya saya bisa dapat ilmu selain duduk dan keluar masuk pintu poli, nunggu giliran diperiksa.

Uh.. ampun-ampun deh saya disuruh ngantri, ngak deh ke dokter lagi, ternyata setiap hari itu yang sakit itu banyak, rumah sakit luar biasa ramenya. Please badan saya, jangan sakit apapun lagi, saja janji bakal kasih asupan gizi dan perawatan yang baik buat kamu, ngak sanggup saya ngantri-ngantri begituan, faktanya ngantri itu menyerap banyak energi dan emosi saya, bikin bad mood seharian..

Jadi kenapa saya keukeh banget bertahan walau kepala saya  berdenyut-denyut selama nunggu antrian dipanggil dan bolak-balik pintunya poli (pertama antri daftar BPJS, kedua antri poli, ketiga antri dokter spesialis, belum lagi antrian administasi khusus untuk lab atau farmasi dan antrian pemeriksaannya)
Jawabannya sesuai judul, ini perkara si gigi geraham bungsu saya yang luar biasa sakit tumbuhnya di pertengahan tahun ini.. Impaksi gigi geraham bungsu.

Awalnya tuh rahang dan gigi belakang saya ngilu, ya saya biarin aja ya kan, dengan semangat saya nyiapin dongkrak gigi saya sendiri, selalu saya bawa ditas. Namanya juga gigi jarang-jarang, ya mikirnya oh ini sisa makanan di gigi yang nyangkut.

Makin hari, crown giginya mulai keluar dan makanan pun makin sering nyangkut dan bikin ngilu. Ditahap ini sikat gigi gocengan saya diupgrade, kemakan iklan, harga dan qualitas bakalan membktikan keampuhan si sikat mengatasi sisa-sisa makanan di gigi saya.

Si ngilu yang tadinya hilang muncul sesuka hatinya pun kayak udah betah amat terasa di kedua gusi bawah paling belakang saya. Berbekalkan google, akhirnya saya tahu ini penyembabnya karena gigi bungsu saya tumbuh.

Gigi bungsu, gigi manusia yang paling terakhir tumbuh melengkapi 32 buah gigi dewasa kita pengganti gigi susu, jumahnya 4, untuk sebagian orang gigi ini tidak tumbuh. Gigi ini tumbuh diusia 17-20-an tahun (padahal saya udah 24 tahun -___-). Tidak semua oang punya gigi geraham bungsu. Pada sebagian orang yang punya rahang yang lebar lengkaplah 32 giginya. Namun pertumbuhan ini akan diikuti rasa sakit yang luar biasa kalau tumbuh tidak normal alias miring , karena tidak ada ruang di gusi untuk tempat si gigi ini, karena tumbuh diusia dewasa dimana rahang kita tidak tumbuh lagi .

Karena saya pikir gigi bungsu tumbuh itu wajar saya biarin aja. Dibenak saya, mungkin kalau giginya sempurna keluar semua ngak akan sakit lagi, jadi saya tahan saja dulu. Berbekal pengetahuan dari adik saya, dengan PD-nya saya ngak minum obat. actually saya ngak bisa minum obat, karena obat selalu kasih efek mules dan ngantuk seharian ke saya.

Keadaan gigi saya seringkali ngak hanya ngilu. Telinga saya juga kayak ada benda nyangkut, kadang saraf dibawah mata saya ikut ketarik. Yang paling sakit itu Kepala, ubun-ubun saya, sering migrain sampai beberapa kali terbangun di jam 3 pagi , saya teriak-teriak dengan bantal saya sumpel dimulut, ngak lucu dong saya bangunin satu kompleks perkara sakit gigi. Beberapa kali terlintas saya tayangan difilm excorsis saat mata saya berkunang-kunang, berharap saya ngak ketemu hantu waktu itu kekeke, biasanya di film horror barat hantu-hantu muncul nyiksa aka merasuki si pemeran yang terbangun  pukul 3 kekeke)

Evenso, I decided to play along until that day when i can’t stand it anymore..

Akhir bulan september, habis makan malam waktu saya lagi asyik-asyiknya cungkil-cungkil si sisa makanan di gigi bungsu saya, yang saya pahami tumbuhnya makin lama makin aneh. Tiba-tiba ujung dongkrak gigi saya menusuk pertengan bagian si  crown si gigi bungsu yang masih berbentuk daging (pertengahan crown nya itu gusi saya). Dan seketika penglihatan saya gelap, ketika tersadar itu titik dengan ngilu ngak wajar, saya langsung bergegas ke klinik dekat rumah dengan sepeda favorit saya dimalam yang dingin, halah lebay^^

Dari situlah saya paham kalau gigi ini ngak layak tumbuh di gusi saya. Mau ngak mau saya harus cabut kedua gigi geraham bungsu bawah saya ini.

Dokter gigi pun merujuk saya ke dokter spesialis Bedah Gigi dan Mulut dirumah sakit umum. Gigi saya harus segera diangkat karena menyiksa saya perkara  tumbuh ngak wajar. Diagnosanya Impacted teeth.

Kasus gigi bungsu ini termasuk kasus yang unik, walaupun saya masih tetap bertanya-tanya kenapa saya kekeke

Berbekal sharing ilmu dari adik saya, yang lagi koas untuk gelar dokter giginya. Untuk sebagian orang penanganan buat gigi bungsu yang tumbuh ngak wajar ini bermacam-macam, menurut penelitian 90% orang yang memiliki geraham bungsu, kondisi tumbuhnya mring (source: http://www.tanyapepsodent.com)

Untuk gigi bungsu yang tumbuhnya sedikit miring penangananya masih  bisa dicabut biasa kedokter gigi umum, gelar depannya drg.

Untuk gigi bungsu yang udah tidur atau ngak muncul kepermukaan harus ke spesialis bedah mulut, gelar spesialis, S.BM.

Untuk pencabutan gigi yang tumbuh tidur dan miring 45′ (2 gigi) kayak saya dikasih dua pilihan, mau bius lokal atau total.

Kalau Bius lokal kata dokternya sakitnya akan tetap terasa, karena ada dua gigi yang dicabut. Tingkat kesulitan untuk dijangkaunya juga berpengaruh kemungkinan akan dibelah dua dulu, lalu dibor diambil sebagian lainnya dihari lainnya, karena bius lokal saya bakalan melihat prosesnya (excited loh saya waktu dibilang begini^^) dan bakalan tetap merasakan sakitnya (kalau liat yang seram-seram enggak apa, tapi kalau sakit jg, hmmm). Actually Kondisi yang diterangkan dokter itu hanya untuk satu gigi saja loh, lalu operasi gigi lainnya lain hari lagi. Wah saya saya enggak deh bolak-balik rumah sakit, kesehatan emosi saya juga perlu tetap stabil^^, jadi saya pilih untuk bius total.

Penanganan untuk bius total juga berbeda sama yang bius lokal, lebih intens dibanding bius lokal, selain cek darah saya juga foto x-ray paru-paru. Saya dijadwalkan untuk rawat inap dari sehari sebelum operasi sampai pasca operasi (karena dokter jadwal operasinya senin dan minggu tidak ada aktifitas dokter, saya dari sabtu udah dijadwalkan dirumah sakit, lumayan banget rehat dari rutinitas). Untuk bius total kesiapan kita untuk cabut gigi benar-benar dijaga mulai dari cek tensi, temperatur sampai diet-nya pun diatur, ngak lupa konsultasi bius, kemungkinan dan penanganan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Actually, ini adalah pengalaman pertama saya dengan Rumah sakit. Dari kecil saya jarang sakit, jarang makan obat dan kalau sakitpun paling demam, batuk, flu, yang umum-umum. Kerumah sakit yang paling sering sih ngejenguk yang sakit, nemanin adek periksa, oh pernah deh  itu juga untuk claim kacamata subsidi. Sebelumnya saya peserta BPJS mandiri, sayangkan dibayar sendiri tiap bulan tapi ngak dipake^^. BTW soal rumah sakit, saya dulu pengen loh dirawat dirumah sakit kayak teman-teman yang saya jenguk sampai dulu saya bilang  iri ke adek saya karena waktu kecil dia langganan Rumah Sakit, hampir tiap tahun di infus, kan pengen kekekek . Fakta membuktikan orang-orang berimun kuat sering iri karena ngak pernah dirawat dirumah sakit, elisa, my colangue’s mate told me so kekeke. Akhirnya 24 tahun saya hidup pernah juga -____-

Absudnya saya.. karena udah pernah untuk berikutnya jangan sampai deh.

Waktu saya nulis ini, saya masih pakai masker keluar rumah ( bahkan 4 hari setelah operasi).  Capek mulut saya, yang masih kaku ini, ditanyai kenapa muka saya bengkak kayak habis operasi plastik begini. Anyway, pipi saya masih bengkak walau udah ngak sebesar bakpao sewaktu bangun diruang pemulihan sadar, saya ngucapin dialog ala ala sinetron bangu-bangun dirumah sakit, ‘Ini dimana?’^^. Saya masih jaga diet saya dengan makanan yang lembek-lembek dan belum berani buka mulut lebar-lebar karena pipi saya diikat pake benang ke gusi belakang saya, saya ngak pengen dong balik kerumah sakit lagi buat hal-hal yang bisa saya hindari.

FYI, Semua perawatan saya itu semuanya di cover BPJS, jadi saya tidak mengeluarkan sepeserpun untuk biaya rumah sakit.

Di Thread selanjutnya saya bakalan ceritain semua kronologis dari mulai minta rujukan sampai pipi saya hampir kembali kebentuk semula, pengalaman saya dirumah sakit, please look forward ^^

December

Happy Sunday everyone, i have a good day in the first of best season of all years, Christmas season. I have been staying in the hospital for preparing of my infacted teeth surgery since  the very last day of november and being ‘unemployment’ for four days streak ahead..

Eventhought i was doing nothing, still not write anything here ^^, i had planned it anyway.

I spent my longing precious days doing hoby, drawing and reading my current ‘Chicken soup’s series: Christmas magic book’, you could tell how expected i am that this christmas will be great..

Actually how sad that things i comes to ye with my to-do-list-not-become-true, no ‘moving out’ this year as i-myself claiming as a new breakthrough of this year against my comfort zone. My Brother told that will be please if i change the month of  my moving out plan, so i agree and realize that no new things for me to go through. Especially since i had an alot discuss, and decided to stay my current job until the end of this years. of course i have to make an alternative plan whilst studying hard for my dream future, sholarship and engineering vocation.

Ah about my hospitalized, i will write it after this surgery done, as a full covered BPJS and almost be a lone ranger being uncompanied care . I am the silly-introvert one and still experiencing a nursery alone will be an epic story kekeke. Actually i prepered well for my first experience, I know there so many blog that describe it, so i self-taught ^^, i’m the one who get help from the blogger who had shared their meaningful experience, so i thankfully to profound as an ‘amateur’, even still get lack for different hospital policy.

Actually today i’m still doing nothing kekeke not so much preparation for tomorrow surgeryn and i’m getting bored each hour passed by.

Actually i am being thankful for being hospitalized ^^ and having  my own holiday out of my daily life…

I’m reading my book by now in hospital Gazabo and maybe i will write some for today, please looked forward..

I hope you doing well guys..

Malas

Sejujurnya saya pengen menyematkan title yang lebih ‘keren’ untuk postingan blog kali ini, kayak kata ‘santuyyy’ yang lagi trend, Terjebak nostalgia, Dunia perbucinan atau apalah yang ngak se flat kata ‘Malas’. But my drafts was waiting to be complete neverthenless, jadi pada dasarnya saya memang benar-benar malas menyelesaikan tulisan saya..

Yah itulah kenapa saya ngak tega ‘menghiperbolakan’ fakta sebenarnya dibalik keengganan saya.

I hibernate from bloging actually is not about my hectic work, too eagerless to share about my though lately.

Depresi berkepanjangan saya berhasil dikalahkan oleh kesibukan kerja namun tidak dapat menghindar dari rasa overwork yang meninggalkan keinginan untuk menghindari rutinitas, even everything about my daily life. Ibaratnya ketika sudah dititik puas membuat balon yang besar lalu berlahan-lahan melepas udaraya keluar..  Apa yang kau lakukan setelah tidak makan tidak minum beberapa hari, tentu makan yang banyak. Begitu juga dengan tugas, apa yang kau lakukan setelah bekerja bagai kuda, tentu saja mengalihkannya dengan bermalas-malasan —-> Random Thought
THAT’S HOW DO I DO THESE DAYS

I spent all the time sneek on Instagram, being toxic since my fave ongoing drama killing my eyes, and can’t over thats out.

I bough a few unnecesarry stuff in online shop

I event postponing writing my essay and not study.

Lihat betapa parahnya kelelahan merenggut semangat saya untuk melakukan pengembangan diri, selain bangun kesiangan. Mereka membuat saya sibuk mengecek gadget, mengalihkan diri dari dunia nyata saya..

Apakah kamu juga pernah dikeadaan seperti ini atau sekarang berada di tahap ini?

Sebelum menuju bulan natal, saya ingin sekali terbebas dari rasa malas ini, benar-benar membuat frustasi!. Saya menghitung hari-hari saya belakangan ini. Wah.. betapa banyak waktu yang bisa saya gunakan untuk melakukan hal-hal produktif daripada bersantai dan sepanjang hari mengecek gadget

Walaupun saya berusaha namun tubuh saya benar-benar menolak tanpa sadar, saya menuliskannya sekarang bergumul dengan penolakan di tubuh saya^^

Stuff of random thought

Benar-benar minta maaf karena tidak bisa menghadirkan konten yang bagus setelah lama berhibernasi, but the only things stuck on my mind and  that i could share anyway

Ah so long, i miss to write puzzled ‘including this one ‘, its makes me happy

During this time, I give up my morning yoga too, since i can’t see the differeces thus far.

Saya juga mengabaikan banyak panggilan telepon dari kawan baik saya minggu ini, sekali lagi bukan karena kesibukan pekerjaan ‘even it was’ tapi karena tubuh malas saya, memberontak untuk mengatakan hallo, berinteraksi, menceritakaan keadaan saya yang stuck

Okey sekarang saya malah melist rasa malas saya disini ^^. setidaknya seseorang yang membaca tulisan ini mengerti mood saya yang cukup menggelisahakan.

Sedihnya, walau saya berusaha keluar, sengaja membelikan buku-buku motivasi dengan maksud mendorong saya untuk melakukan kegiatan postif yang membangun. namun ‘rasa’ ini tetap membuat saya tidak punya waktu menghabiskan bacaan saya.

Saya percaya karakter tidak bisa dirubah sepenuhnya, bukankah rasa malasjuga  punya tempat untuk menghasilkan hal-hal baik?

—everything has made meant to be

Kesimpulan

Apa yang kau pikirkan akhir-akhir ini?
Apa yang membuatmu terbangun dipagi hari?
Hal apa yang membuatmu terjaga sepanjang malam?
Atau apa yang kau cari sepanjang hari di sela-sela kesibukanmu? Bukankah seharusnya itu juga BISA jadi bagian dari hari produktif kita…

Malas itu bukan alasan, i speak to myself..